Amanah Kepemimpinan

Amanah Kepemimpinan

Oleh: Inayatullah Hasyim

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Saat dilantik sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan sambutannya. Ia berkata, Ketahuilah, aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Tetapi, aku adalah bagian dari kalian, kecuali bahwa Allah telah memilihku untuk memikul beban yang terberat di antara kalian.

Dalam satu hadisnya, Rasulallah SAW bersabda, Ada tiga kelompok orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, seorang yang berpuasa sampai ia berbuka dan doa seorang yang dizalimi. Karena itu, Islam memandang tidak mudah menjadi pemimpin.  Syarat-syaratnya begitu ketat.

Imam al-Mawardi menyebutkan, antara lain, adil dengan ketentuan-ketentuannya, memiliki ilmu pengetahuan yang luas, sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan, dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan. Dan normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.

Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja'far al-Mansur, salah seorang Khalifah Bani Umayah, Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat. Abu Ja'far al-Mansur bertanya: Siapa dia? Sufyan menjawab: Engkau!

Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan, seburuk-buruk harta adalah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman adalah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin adalah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri adalah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang.
 
Maka, sesaat setelah dilantik sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz ditanya oleh seorang menterinya. Katanya, Wahai amirul mukminin, berapa gaji yang pantas Anda terima? Umar bin Abdul Aziz balik bertanya, Berapa gaji terendah pegawai pemerintahan kita? Tiga ratus dirham jawab menteri keuangannya. Jika demikian, itulah gaji saya.

Tentu gaji Umar menjadi sangat kecil bila dibandingkan kebutuhannya sebagai khalifah. Meski demikian, sang istri, Fathimah, berusaha berhemat agar suatu hari bisa makan enak. Dan, inilah kejadian lanjutannya. Ssuatu hari Fathimah masak yang enak, Umar bin Abd. Aziz bertanya, Dari mana makanan ini? Aku memasaknya dari uang yang aku kumpulkan setiap bulan, kata Fathimah. Oh, kalau begitu gaji saya masih berlebih, gumam Umar. Keesokan harinya, ia mengirim surat kepada menteri keuangannya agar gajinya dipotong. Subhanallah.
 
Seorang pemimpin hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin ibarat mahkota bagi seorang raja. Ketika Uyainah bin Hishn masuk menemui Umar bin al-Khathab, ia berkata: Hai Ibnul-Khathab, demi Allah, engkau tidak memberi kami secara cukup dan engkau tidak menghukum di antara kami secara adil!

Marahlah Umar dan beliau ingin memukulnya. Salah seorang saudaranya berkata: Hai amirul mukminin, sesungguhnya Allah telah berfirman, (yang artinya): Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh, dan sesungguhnya dia ini termasuk orang bodoh. (QS al-A'râf: 199). Demi Allah, ketika ia mendengar ayat itu dibacakan, Umar tidak jadi memukulnya. Karena Umar seorang yang sangat komitmen mengikuti Alquran.
 
Sejak dilantik, Umar bin Abdul Aziz yang tak lain adalah cicit Umar bin Khatab bekerja sangat sungguh-sungguh. Maka, sejarah mencatat, dalam waktu kekuasaannya yang hanya tiga tahun, negara sulit mencari orang miskin yang berhak menerima zakat, kartu sehat, dan berbagai kartu santunan lainnya.

Warga Jakarta baru saja menyelesaikan pemilihan kepala daerah (pilkada). Tulisan ini semoga mengingatkan semua pihak, terutama calon pemimpin Jakarta, untuk berlaku adil dan memperhatikan semua pihak. Wallahu a'lam bishawab.

Dipost Oleh Super Administrator

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait

Tinggalkan Komentar